Ulasan Pengguna - Dian Putra S - Tandai sebagai tidak pantas
Aku
selesai membaca awal 2009, waktu itu banyak pekerjaan dan aku berusaha
untuk menyelesaikan bacaan buku ke-3 tetralogi laskar pengalangi ini...,
Isi sangat Inspiratif, menaikkan Mood, memberikan kesedaran bahwa
inilah Indonesia sesungguh di balik kaca mata orang-orang yang sukses
dan menimba ilmu di luar negri...<br>" Saya Ingat: Ini
Adalah Mimpi, Yang mewujudkannya hanya kerja keras dan niat yang
tercapai"<br>Mari Kawan-kawan Kita
bermimpi...............
Ulasan Pengguna - Tandai sebagai tidak pantas
Edensor
merupakan seri ke-3 dari tetralogi Laskar Pelangi. Cerita dibalik buku
Edensor berintisarikan pencarian jati diri oleh penulis. Kisah dimulai
dari petualangan penulis (Andrea Hirata) dengan Weh, seorang umat
manusia yang memiliki otak jenius namun harus memilih hidup sebagai
nelayan (yang 24 jam tinggal di perahunya) karena penyakit yang
dideritanya.<br>Pelaut Weh memberikan pelajaran hidup yang
sebenarnya kepada penulis. Weh membawa penulis mengarungi perairan
dengan perahunya. Hingga suatu saat penulis merasa untuk pertam kalinya
sebagai seorang lelaki, karena telah dipercayai dan berhasil sebagai
nakhoda di tengah malam yang gelap. Bagaimana mungkin hal tersebut dapat
dilakukan oleh seorang anak kecil belasan tahun?<br>Dilanjutkan
dengan kisah petualangan di Eropa. Di hari pertama ketibaan mereka di
Eropa, Penulis dan sepupunya Arai, tidur di taman, bermandikan butiran
salju. Malam itu suhu drop sampai dengan -19 derajat Celcius. Perlahan
tapi pasti, penulis merasa badannya kaku diterjang kedinginan salju.
Mungkin ajal telah dekat. Arai yang selalu bertindak sebagai pahlawan,
menidurkan penulis di atas tanah yang telah berubah menjadi balok salju.
Darah segar pun tampak mengalir dari hidung penulis, tampak jelas di
antara salju yang putih bersih. Arai selanjutnya menimbuni tubuh penulis
dengan daun-daun rowan yang membusuk. Ternyata daun-daunan tersebut
berhasil menghasilkap uap panas dan menghangatkan badan penulis. Sebuah
ilmu yang sangat berguna di waktu yang sangat tepat. Arai memang selalu
unik baik untuk ‘kegilaannya’ maupun kepintarannya.<br>Andrea
selalu membawa kertas cinta Edensor. Betapa dia ingin sekali bertemu
dengan A Ling, wanita yang dicintainya tersebut. Demikian dengan Arai,
membacakan puisi buat wanita yang dicintainya Zakiah Nurmala. Puisi
tersebut dibacakan pada tanggal 3 Juli, yakni hari kematian penyanyi
Legendaris Jim Morrison, dan di kuburan sang Legendaris itu pula.
Sementara seantero Paris memutar lagu yang sama, “End of Night”-nya Jim
Morrison.<br>Di masa liburan, penulis dan Arai ingin mewujudkan
mimpinya menjelajahi Eropa dan Afrika. Tapi mereka sadar, tidaklah mudah
untuk mewujudkan impian tersebut, butuh banyak uang. Akhirnya, melalui
bantuan seorang mahasiswa Amsterdam School Of The Arts, Famke Somkers.
Somkers dan teman-temannya mengubah penulis dan Arai menjadi seekor ikan
duyung dan anaknya. Dengan menggunakan kostum ikan duyung beserta
beberapa perlengkapan make-up, penulis dan arai dapat menjelajahi eropa
dan afrika.<br>Karena di Eropa sudah terbiasa budaya backpacker
(turis miskin-bepergian dengan mengeluarkan biaya sekecil mungkin,
termasuk membawa sleeping bag-), penulis dan Arai pun demikian. Dan
karena mereka berdua memegang Schenge Visa, memudahkan mereka
menjelajahi Eropa tanpa ada urusan antah belantah layaknya sekarang ini
di Asia.<br>Perjalanan mereka melalui Jerman, Denmark, Swedia,
Norwegia, Skandinavia, Finlandia dan yang lainnya. Di rusia yang
sebahagian besar wilayahnya adalah daratan, mereka harus memakan
dedaunan. Mereka juga pernah ditawari oleh seorang homo dan dibayar
dengan tinggi. Mereka pernah ditangkap polisi di Syzran, yang mana hal
paling berharga yakni Kompas dan Collins World Atlas mereka tertinggal
di kantor polisi tersebut.<br>Selain itu, mereka juga pernah
hampir mati di Rumania karena dihadang 4 orang pecandu narkoba, dan
diselamatkan oleh orang Indonesia yang terbuang di sana. Namun mereka
berjaya di Yunani dan Nabpaktos karena mereka mendapat sumbangan yang
sangat banyak dari hasil ngamen mereka sebagai ikan duyung dan anaknya.
Karena bergelimangan duit, mereka membeli barang-barang yang mereka
idamkan. Penulis membeli kacamata ray ban, celana cutbrai kordurai,
kemeja Manly Executive, sepatu Nike, ikat pinggang besar bergambar wajah
presiden Amerika, Benjamin Franklin, dan masuk salon untuk menata
rambut ala Bob Marley. Sementara Arai membeli jaket kulit, Bulu Cerpelai
dan Arloji.<br>Selain bertemu dengan orang Indonesia, mereka juga
bertemu dengan petinggi-petinggi kaum Muslimin di Afghanistan, Afrika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar